“Aku” Berada di Deretan Kata Cinta, Kisah, dan Sejarah
Karya Muh. Dirga Ramadhan
Pukul
05.00 WITA dering handphone
membangunkan ku dari tidur lelapku yang
hanya menandakan telah menerima sebuah pesan singkat
“Selamat
pagi” sebuah kalimat singkat yang kuterima dalam subuh itu, namun beberapa
menit kemudian dering yang sama kembali terdengar
“Semangat
sekolahnya” kalimat singkat lagi yang ku dapat, entah apa yang telah tersirat
di pikiran dan hatiku, entah dorongan apa yang terjadi di punggungku, semua
terasa seru dan bahagia subuh itu
Kalimat
singkat itu selalu terbayang dikala ku melangkahkan kaki ku ke sekolah, terlalu lebay mungkin namun apa daya diri ini
telah terbuai, tenggelam kedalam, curamnya kalimat tersebut, senyum sumringah
selalu terpancar di wajah tua ku, katanya.
Sampai
ke esokkan harinya kata yang sama dan kalimat yang hampir sama serta di waktu
yang sama pesan singkat itu kembali tersemat dalam HP kecil ku, seperti
biasanya hal yang sering ku lakukan di sekolah karena kata itu selalu terlihat
bersemangat, sampai pada waktu ku disempatkan tuk bertemu dengannya dalam
sebuah gedung lembaga bimbingan, obrolan basi merupakan awal dari munculnya
rasa cinta padanya
Saling
berbalas pesan, saling menelfon satu sama lain, dan seringnya bertemu membuatku
semakin rindu dan sayang padanya
Setiap
malam tak henti ku tertawa terbahak-bahak di atas kasur empukku, tak terelakkan
juga bantal guling siap selalu untuk menjadi lawan ku dikala ku terbuai amarah
Setiap
kisah selalu ku abadikan dengan foto bersama, senyum lugu di bibirnya selalu
tersirat sehingga memaksaku tuk melebarkan lagi senyum yang tengah menempel
erat di bibir ku, sehingga tiba hari seorang kawan menawarkan sebuah aksesoris
untuk ku kapai berdua dengannya
Dalam
beberapa hari kedepannya sebuah masalah yang tidak bias kami selesaikan selalu
mencari cela tuk terus merusak dan mengrogoti pohon rindu dan sayangku padanya
Pesan-pesan
singkat yang masuk ke HP ku sudah mulai jarang ku dengar dan terbaca olehku,
obrolan basi selalu terjadi, amarah emosi biasa tersirat dalam setiap kata-kata
ku
Mungkin
kata “Bosan” lebih tepat menggambarkannya sehingga tiba waktu hubunganku usai
dalam malam yang abu-abu
Maros,
14 September 2015 tepatnya hal itu terjadi
Kembali
menapaki masa-masaku sebagai pelajar di sekolah, hingga tiba ku teringat
seseorang yang pernah diri ini memiliki hal spesial untuknya, entah karena
suara khasnya, entah karena ke supelannya dalam setiap orang yang ia kenal
entah karena penampilan, entah karna baiknya dan entah karena sesuatu di dirinya
sehingga ku memiliki rasa spesial itu
Pra
MOS tepatnya waktu yang tidak mungkin bagi seorang senior tuk mengembangkan
sayapnya di hadapan juniornya, namun beda dikala ku menemukan seorang gadis,
masih polos di mataku, senyum tipis biasa tergambar di bibirnya
Hari
kedua pra MOS tetap sama ku mungkin telah terbuai namun apakah saya berani tuk
mendekatkan diriku padanya? Entah pertanyaan bodoh dari mana saya mendapatkan
itu
Melangkah
ke sesi selanjutnya yaitu hari H MOS entah gadis itu tengah menduduki kelompok yang
mana ku tidak perduli akan hal itu, setiap senyum tipis terkirim padaku ku
berusaha untuk membalas senyum itu
Hal-hal
it uterus terulang dalam hari MOS yang melelahkan itu, beberapa saat ku sering
bertanya apakah pantas ku harus bersamanya?
Entah dari mana hal itu dating lagi
Mencoba
tuk tidak terlalu terbuai atas dirinya hingga sesi terakhir tiba yaitu Bina
Akrab, mungkin hal bodoh tuk tidak berharap agar tidak terbuai atas dirinya,
dirinya bagaikan pemata di antara kawan-kawannya sulit tuk menghindar dari
setiap terangnya
Masuk
ke kegiatan sehari-hari di sekolah membuat Tuhan memberikan jalan lain ia
memberikanku jalan tuk mencintai seorang yang salah, seorang yang dating hanya
untuk pergi membekaskan luka pada hati ku
Hal-hal
lucu biasa ku lakukan dengannya senyum tipis dulu berubah menjadi senyum lebar
dengan lambaian tangan yang selalu terbuka tuk menyapaku, balasan sama yang ia
dapatkan juga, bercerita hal-hal konyol dengan sahabatnnya, memberikan latihan
basket tuk pertama kali hingga ku berdiri seperti orang gila di bawa terangnya
lampu jalan depan rumahnya hanya untuk bertemu dengannya, hal-hal singkat nun spesial
itu adalah kado indah ku bahwa Tuhan masih membukakan jalan untukku. Rasa nyaman,
rasa sayang, rasa rindu telah tertancap di hati dan pikiran ku, salah mungkin
namun ini adalah hal pribadiku dan tidak ada yang bias mengganggunya
Hingga
tiba suatu hari sebuah berita dari seorang kawan menyengat hati dan pikiranku,
hal yang takbiasa ter dengar dari bibirnya, dia masih belum di takdirkan Tuhan
tuk menjadi milikku, dia telah memilih orang lain dan bahagia bersamanya,
sehingga membuatku menyesal akan yang pernah terjadi. Tepatnya Maros, 17
September 2015 pada pagi yang seduh
Dalam
Cinta dan Kisahku ku masih berdiri sendiri menanti sebuah hati yang telah
memantaskan diri agar tidak pergi lagi, Cinta ku telah menjadi kisah hidup yang
mewarnai seduh, cerah, berwarna hingga suramnnya hidupku hingga menjadi sejarah
dalam setiap memori tuk ku museumkan nanti
“Aku”
Berada di Deretan Kata Cinta, Kisah, dan Sejarah
Maros,
17 September 2015 pada malam yang mendung

0 komentar:
Posting Komentar