MIMPI SANG PEMUDA MENUJU TANGGA MASA DEPAN

Kamis, 17 September 2015

“Aku” Berada di Deretan Kata Cinta, Kisah, dan Sejarah



Karya Muh. Dirga Ramadhan

Pukul 05.00 WITA dering handphone membangunkan ku dari tidur lelapku  yang hanya menandakan telah menerima sebuah pesan singkat
“Selamat pagi” sebuah kalimat singkat yang kuterima dalam subuh itu, namun beberapa menit kemudian dering yang sama kembali terdengar
“Semangat sekolahnya” kalimat singkat lagi yang ku dapat, entah apa yang telah tersirat di pikiran dan hatiku, entah dorongan apa yang terjadi di punggungku, semua terasa seru dan bahagia subuh itu
Kalimat singkat itu selalu terbayang dikala ku melangkahkan kaki ku ke sekolah, terlalu lebay mungkin namun apa daya diri ini telah terbuai, tenggelam kedalam, curamnya kalimat tersebut, senyum sumringah selalu terpancar di wajah tua ku, katanya.

Sampai ke esokkan harinya kata yang sama dan kalimat yang hampir sama serta di waktu yang sama pesan singkat itu kembali tersemat dalam HP kecil ku, seperti biasanya hal yang sering ku lakukan di sekolah karena kata itu selalu terlihat bersemangat, sampai pada waktu ku disempatkan tuk bertemu dengannya dalam sebuah gedung lembaga bimbingan, obrolan basi merupakan awal dari munculnya rasa cinta padanya
Saling berbalas pesan, saling menelfon satu sama lain, dan seringnya bertemu membuatku semakin rindu dan sayang padanya
Setiap malam tak henti ku tertawa terbahak-bahak di atas kasur empukku, tak terelakkan juga bantal guling siap selalu untuk menjadi lawan ku dikala ku terbuai amarah
Setiap kisah selalu ku abadikan dengan foto bersama, senyum lugu di bibirnya selalu tersirat sehingga memaksaku tuk melebarkan lagi senyum yang tengah menempel erat di bibir ku, sehingga tiba hari seorang kawan menawarkan sebuah aksesoris untuk ku kapai berdua dengannya
Dalam beberapa hari kedepannya sebuah masalah yang tidak bias kami selesaikan selalu mencari cela tuk terus merusak dan mengrogoti pohon rindu dan sayangku padanya
Pesan-pesan singkat yang masuk ke HP ku sudah mulai jarang ku dengar dan terbaca olehku, obrolan basi selalu terjadi, amarah emosi biasa tersirat dalam setiap kata-kata ku
Mungkin kata “Bosan” lebih tepat menggambarkannya sehingga tiba waktu hubunganku usai dalam malam yang abu-abu

Maros, 14 September 2015 tepatnya hal itu terjadi

Kembali menapaki masa-masaku sebagai pelajar di sekolah, hingga tiba ku teringat seseorang yang pernah diri ini memiliki hal spesial untuknya, entah karena suara khasnya, entah karena ke supelannya dalam setiap orang yang ia kenal entah karena penampilan, entah karna baiknya dan entah karena sesuatu di dirinya sehingga ku memiliki rasa spesial itu
Pra MOS tepatnya waktu yang tidak mungkin bagi seorang senior tuk mengembangkan sayapnya di hadapan juniornya, namun beda dikala ku menemukan seorang gadis, masih polos di mataku, senyum tipis biasa tergambar di bibirnya
Hari kedua pra MOS tetap sama ku mungkin telah terbuai namun apakah saya berani tuk mendekatkan diriku padanya? Entah pertanyaan bodoh dari mana saya mendapatkan itu
Melangkah ke sesi selanjutnya yaitu hari H MOS entah gadis itu tengah menduduki kelompok yang mana ku tidak perduli akan hal itu, setiap senyum tipis terkirim padaku ku berusaha untuk membalas senyum itu
Hal-hal it uterus terulang dalam hari MOS yang melelahkan itu, beberapa saat ku sering bertanya apakah pantas ku harus bersamanya? Entah dari mana hal itu dating lagi
Mencoba tuk tidak terlalu terbuai atas dirinya hingga sesi terakhir tiba yaitu Bina Akrab, mungkin hal bodoh tuk tidak berharap agar tidak terbuai atas dirinya, dirinya bagaikan pemata di antara kawan-kawannya sulit tuk menghindar dari setiap terangnya
Masuk ke kegiatan sehari-hari di sekolah membuat Tuhan memberikan jalan lain ia memberikanku jalan tuk mencintai seorang yang salah, seorang yang dating hanya untuk pergi membekaskan luka pada hati ku
Hal-hal lucu biasa ku lakukan dengannya senyum tipis dulu berubah menjadi senyum lebar dengan lambaian tangan yang selalu terbuka tuk menyapaku, balasan sama yang ia dapatkan juga, bercerita hal-hal konyol dengan sahabatnnya, memberikan latihan basket tuk pertama kali hingga ku berdiri seperti orang gila di bawa terangnya lampu jalan depan rumahnya hanya untuk bertemu dengannya, hal-hal singkat nun spesial itu adalah kado indah ku bahwa Tuhan masih membukakan jalan untukku. Rasa nyaman, rasa sayang, rasa rindu telah tertancap di hati dan pikiran ku, salah mungkin namun ini adalah hal pribadiku dan tidak ada yang bias mengganggunya
Hingga tiba suatu hari sebuah berita dari seorang kawan menyengat hati dan pikiranku, hal yang takbiasa ter dengar dari bibirnya, dia masih belum di takdirkan Tuhan tuk menjadi milikku, dia telah memilih orang lain dan bahagia bersamanya, sehingga membuatku menyesal akan yang pernah terjadi. Tepatnya Maros, 17 September 2015 pada pagi yang seduh
Dalam Cinta dan Kisahku ku masih berdiri sendiri menanti sebuah hati yang telah memantaskan diri agar tidak pergi lagi, Cinta ku telah menjadi kisah hidup yang mewarnai seduh, cerah, berwarna hingga suramnnya hidupku hingga menjadi sejarah dalam setiap memori tuk ku museumkan nanti

“Aku” Berada di Deretan Kata Cinta, Kisah, dan Sejarah
Maros, 17 September 2015 pada malam yang mendung

0 komentar:

Posting Komentar

Follower

My Blog list