MIMPI SANG PEMUDA MENUJU TANGGA MASA DEPAN

Senin, 25 April 2016

Hanya Waktu

Jujur, aku masih takut menatap bintang, ada yang berkilau disaat selalu menatap nanar terhadapnya, aku hanya takut itu hanya sementara, hingga dirimu datang, kamu bukan hujan, kamu bukan matahari maupun apapun itu yang dapat kulihat.

Kamu ternyata adalah jiwa yang selalu terperangkap dalam hati walau rindu selalu ingin dikasihi, aku selalu marah terhadap angin-angin yang 'katanya' menerbangkan rindu ini terhadapmu, tapi hanya perihal kata aku cinta kamupun belum terucap dengan jelas,sebab aku tak ingin mengatakannya melalui kotak percakapan aku ingin mengatakannya langsung di hadapmu.

Jarak tak menggetarkan, aku tak perduli itu, aku berusaha merajut waktu karena kita hanya berbeda tempat, tak beda kepercayaan dan rasa ingin bersama.

Untuk gadis yang jauh disana, namamu ada dalam puisi ku kali ini, silakan kamu tenggelam didalamnya, percaya ada aku yang akan membawamu ke permukaan bersama senyum indahmu

Maros, 9 Juni 2016

Minggu, 10 April 2016

Pinta Seorang Penyair

Menuliskan beberapa untaian sajak untuk mu, lagi, lagi, lagi hingga matahari menelan panasnya sendiri. Aku hanya ingin suatu makna dalam setiap ingin mu, menjadikan ku suatu keharusan dalam mencintai hati yang setiap saat ku mencoba untuk membenahi, kali ini apa lagi? puisi kali ini menangis lagi, lagi, lagi hingga air mata berubah menjadi derasnya air terjun di pelosok sana, MUNGKIN saja kau merindukan ku diantara lebatnya kesibukan mu, tapi pernahkah kau berpikir untuk meluangkan beberapa nikmat mu itu untuku, walau harus meneteskan secangkir keringat ataupun menangisi kepergian kesibukan? benarkan? kapankah kau belajar untuk mengutai doa sendiri, menaikkan sebuah harap di antara dedaunan yang rontok dimakan angin malam.

Kamis, 07 April 2016

Menjadi Matahari

Kali ini hanya ingin menulis dalam sendu sendiri, ketika hanya sepi yang membuat mata ini seperti ingin memuntahkan sebuah sedih, hanya dalam hati membisik perih, maafkan, ku tidak dapat membiarkan senyum mu abadi dalam memori tapi linimasa kini mengetahui atas semua yang membuatku teringat kembali. Terpaksa, kali ini ku mencoba menata.
Kali ini hanya apa yang dalam hati ingin mengetahui, ketika kalian akan pergi mencari jati diri, berharap hanya untuk mendambakan sebuah kisah dapat terulang walau sekiranya kita sudah tak searah. Harus, kali ini memang untuk mendamba kalian sukses membanggakan cinta dari orang tua kalian, menyemu beberapa harap kosong tak harus terpendam dalam sebuah hal yang tabu. Jingganya senja terpatri walau hanya sementara. Tapi ku tidak ingin kalian seperti senja indah, indah, indah namun hanya sementara ku ingin kalian seperti matahari, menyinari, menghangati, menaungi diri ini
Maafkan semua yang terjadi, biarkan hati kita saling terisi dalam sebuah memori indah untuk dikenang dalam suatu masa nanti ketika tua

Maros, 07 April 2016

Follower

My Blog list