Hanya Waktu
Jujur, aku masih takut menatap bintang, ada yang berkilau disaat selalu menatap nanar terhadapnya, aku hanya takut itu hanya sementara, hingga dirimu datang, kamu bukan hujan, kamu bukan matahari maupun apapun itu yang dapat kulihat.
Kamu ternyata adalah jiwa yang selalu terperangkap dalam hati walau rindu selalu ingin dikasihi, aku selalu marah terhadap angin-angin yang 'katanya' menerbangkan rindu ini terhadapmu, tapi hanya perihal kata aku cinta kamupun belum terucap dengan jelas,sebab aku tak ingin mengatakannya melalui kotak percakapan aku ingin mengatakannya langsung di hadapmu.
Jarak tak menggetarkan, aku tak perduli itu, aku berusaha merajut waktu karena kita hanya berbeda tempat, tak beda kepercayaan dan rasa ingin bersama.
Untuk gadis yang jauh disana, namamu ada dalam puisi ku kali ini, silakan kamu tenggelam didalamnya, percaya ada aku yang akan membawamu ke permukaan bersama senyum indahmu
Maros, 9 Juni 2016