Antara Aku, Buku, Setapak, Cinta, Hujan,dan #MIWF2016
MIWF 2016 Day-1

(18/5) Di post kali ini saya mungkin akan bercerita sedikit tentang MIWF 2016, sebelum itu saya ingin memaparkan sedikit tentang, MIWF itu apa sih? Keren kah? Bagus kah? Nah, MIWF merupakan singkatan dari Makassar International Writers Festival, MIWF merupakan satu-satunya festival sastra terbesar se Indonesia timur yang merupakan program dan dikelola dari Rumata' Artspace sejak 2011. Nah buat yang bertanya-tanya apakah keren? Ataukah bagus? Anda harus merasakan euforianya sendiri, menurut saya ini merupakan surga bagi penikmat literasi untuk keluar dari gua mereka, mungkin sudah ada yang berkelana.
Di hari pertama ini dibuka dengan discussion dengan Dewi "Dee" Lestari the author of Supernova, saya untuk acara ini tidak sempat hadir, jadi saya memberikan review menurut bacaan dari linimasa yang sempat saya cerna. Pada acara pembuka ini Dee berhasil menarik antusias pembaca Supernova dan membludaki tempat berlangsungnya diskusi ini, tak heran memang Dewi Lestari yang kerap dipanggil Dee ini menarik banyak pembaca untuk berpanas ria, karena karya super epik Supernova sukses membuat orang-orang terjebak dalam imajinasi mereka yang lebih serunya lagi pada forum diskusi ini Dee menceritakan kisah hidupnya dalam menulis karya epik tersebut.
Untuk acara selanjutnya ada dua kegiatan Book Launch yang tidak dapat saya kejar satu-satu karena waktu dimulainya bersamaan, tapi mendengar cerita dari Tante yang berhasil duduk manis disalah-satu Book Launch dari Khrisna Pabhicara bahwa Novelnya yang berjudul Natisha ini merupakan novel calon-calon epik maupun best seller karena pada saat Book Launch berlangsung ada banyak penggiat literasi menikmati karya dari Khrisna itu, dan untuk Book Launch yang lainnya saya tidak mendapatkan informasi sedikitpun namun tidak membuat saya untuk berhenti penasaran atas kedua buku tersebut.
Acara selanjutnya ada Panel Discussion : The Journey of Moving Libraries in Indonesia di acara ini yang menjadi moderator adalah Maman Suherman the author of Re: dan PeREmpuan. di forum diskusi ini saya juga kekurangan banyak informasi karena pada saat acara ini berlansung saya berada di acara Workshop : Writing and Photography with Agustinus Wibowo dan moderatornya adalah M. Aan Mansyur atau bisa disebut "Huruf Kecil". Sebelum membahas Workshop kita kembali ke Panel Discussion dulu, di forum diskusi ini ada beberapa narasumber seperti Nirwan Arsuka, M. Ridwan Alimuddin dan masih banyak lagi, mereka bercerita tentang perjalanan dalam membawa perpustakaan, ruang baca, ruang bergumuh dengan buku-buku ke hadapan khalayak ramai, yang katanya berawal dari perpusatakaan yang ditarik atau ditunggang kuda hingga menjadi perpustakaan dalam perahu boat, dan intinya banyak peluh yang rinai untuk mencerdaskan anak bangsa.
Selanjutnya ada Workshop yang sempat saya jelaskan sebelumnya, di Workshop ini Agustinus selaku narasumber bercerita banyak tentang fotografi yang bercerita, tentang bagaimana suatu foto memberikan kita cerita yang sangat intim dan dalam. Dalam hal membawakan materinya Agustinus menurut saya memaparkan penjelasannya itu dengan sahaja sehingga kami para peserta
mengerti dan paham apa yang dimaksud dan apa yang dijelaskan. Menurut saya Workshop pertama di hari pertama ini sangat sukses untuk menarik
perhatian pencinta fotografi dan literasi, pasalnya peserta Workshop ini
melebihi kapasitas yang telah ditentukan dari pihak MIWF itu sendiri, dan menurut
saya ini merupakan Workshop tanpa bosan pertama yang saya hadiri.
Pada saatnya acara yang berbau forum, diskusi maupun peluncuran buku selesai kita disambut dengan pembacaan puisi serta seduhan kopi atau teh di sore menuju senja, gelanggang Fort Rotterdam tepatnya di Taman Rasa telah dipenuhi pengunjung, awak media, serta beberapa narasumber. Pada saat itu saya tidak memdengar jelas siapa yang membacakan puisinya tapi dari aksen bicara, ia adalah seorang Ambon atau Papua. Pembacaan puisi yang ditemani oleh senja sangat dinikmati oleh banyak pengunjung. Sore menuju senja itu tak banyak juga pengunjung yang mulai memenuhi Taman Baca untuk mengintimkan dirinya dengan buku-buku, dan juga acara pembukaan yang berlangsung pada malam hari sangat meriah dan asik banyak penggiat, penikmat dan awak media yang hadir untuk membludaki acara pembukaan MIWF 2016 yang bertema "Baca!". #MeiAyoKeMakassar #MIWF2016
Nb; Tulisan ini berdasarkan pengamatan saya, berdasarkan bacaan dari linimasa maupun web official
Semoga bermanfaat, salam literasi
Pada saatnya acara yang berbau forum, diskusi maupun peluncuran buku selesai kita disambut dengan pembacaan puisi serta seduhan kopi atau teh di sore menuju senja, gelanggang Fort Rotterdam tepatnya di Taman Rasa telah dipenuhi pengunjung, awak media, serta beberapa narasumber. Pada saat itu saya tidak memdengar jelas siapa yang membacakan puisinya tapi dari aksen bicara, ia adalah seorang Ambon atau Papua. Pembacaan puisi yang ditemani oleh senja sangat dinikmati oleh banyak pengunjung. Sore menuju senja itu tak banyak juga pengunjung yang mulai memenuhi Taman Baca untuk mengintimkan dirinya dengan buku-buku, dan juga acara pembukaan yang berlangsung pada malam hari sangat meriah dan asik banyak penggiat, penikmat dan awak media yang hadir untuk membludaki acara pembukaan MIWF 2016 yang bertema "Baca!". #MeiAyoKeMakassar #MIWF2016
Nb; Tulisan ini berdasarkan pengamatan saya, berdasarkan bacaan dari linimasa maupun web official
Semoga bermanfaat, salam literasi
0 komentar:
Posting Komentar